Mengenang Sang Wonderkid yang Kehilangan Akal dan Yakin Bahwa Dirinya adalah Tuhan

Di dunia sepakbola, tidak ada klise yang lebih besar daripada wonderkid yang terbius oleh ketenarannya. Namun, kisah Royston Drenthe membawa klise itu ke tingkat yang sama sekali baru. Drenthe bukan hanya memiliki kompleks Tuhan; dia secara harfiah mengakui bahwa pada puncak kesuksesannya, ia yakin dirinya adalah Tuhan sendiri. Mungkin inilah alasan mengapa karirnya mencapai puncak pada usia 21 tahun.

Masa Kejayaan yang Membawa Kutukan

Ketika Drenthe muncul sebagai pemain muda berbakat, dia melesat dari status pemain muda berpotensi menjadi wonderkid terbaik di dunia dalam satu turnamen. Dianggap sebagai “penerus Roberto Carlos,” dia bahkan direkrut untuk menggantikan legenda tersebut. Namun, begitu tiba di puncak, Drenthe seperti kehilangan kendali. Mulai dari kecelakaan mobil, balapan liar dengan Ferrari dalam keadaan mabuk total, hingga menjalin hubungan dengan model Playboy yang terlibat dalam perdagangan manusia—semuanya menjadi langkah-langkah yang membuatnya menjadi aib terbesar negaranya.

Anak Surga dengan Kehidupan Pahit

Drenthe, seorang imigran Suriname di Belanda, sebenarnya memiliki keberuntungan genetik. Sebagai keponakan Edgar Davids, bakat sepakbolanya memang melekat dalam gennya. Namun, kehidupan pribadinya tidak setenar bakat sepakbolanya. Ayahnya tewas tertembak ketika Drenthe baru berusia 3 tahun, membuatnya tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah. Yang membuatnya semakin sulit adalah keputusan ibunya untuk merahasiakan keadaan kematian ayahnya. Kehidupan di antara lingkungan yang kurang baik membuatnya terjerumus dalam kehidupan yang tidak baik pula.

Drenthe: Dari Puncak Harapan ke Dasar Malu

Talenta Drenthe mengantarnya ke Feyenoord pada usia 13, namun kecenderungannya untuk menciptakan masalah terus menghantuinya. Bahkan di usia muda, insiden di hotel di Swiss menunjukkan betapa sulitnya mengontrol Drenthe. Walau diakomodasi di tim cadangan Excelsior, perjalanan profesionalnya dengan Feyenoord berakhir tragis setelah insiden kontroversial.

Drenthe di Puncak Karir: Dari Kejayaan ke Kegilaan

Ketika mencapai puncak kariernya dengan Real Madrid, Drenthe mendapati dirinya seolah-olah menjadi dewa sepakbola. Namun, keegoisannya membuatnya terjerumus ke dalam skandal dan perilaku kontroversial. Dari kecelakaan mobil hingga hubungan ganda dengan model Playboy, Drenthe melupakan tanggung jawabnya sebagai pemain sepakbola. Momen puncaknya terjadi ketika ia mengakui bahwa pada suatu waktu, dia merasa sebagai Tuhan.

Kesedihan dan Kehancuran Karier

Namun, kenyataan bahwa Drenthe hanya manusia biasa, bukan Tuhan, akhirnya menyadarkan dia. Meskipun dibandingkan dengan legenda seperti Roberto Carlos, kenyataan pahit melanda Drenthe. Karirnya di Real Madrid tidak sesuai harapan, dan pemain yang disandingkan dengannya seperti Wesley Sneijder dan Arjen Robben justru menemukan kesuksesan yang gemilang. Drenthe, setelah rentetan peristiwa kontroversial dan bermasalah di klub-klub Eropa, akhirnya pensiun dari sepakbola pada usia 29.

Drenthe, sang wonderkid yang hilang akal dan meyakini dirinya sebagai Tuhan, meninggalkan cerita kepahitan di belakangnya. Keberuntungan genetiknya terhenti oleh keputusan-keputusan kontroversial dan pilihan hidup yang merugikan. Sebuah kisah yang menjadi peringatan tentang bahaya keegoisan dan ketidakstabilan mental dalam dunia sepakbola.